Minggu, 28 April 2013

RAHMI REZKIANI

28 april, happy born day ami :)
Wah akhirnya nambah juga umur sahabat saya yang satu ini, sekarang sudah 14 tahun :* tetap masih kecil yah.

Rahmi atau ami sapaan saya untuknya, lahir di Ambon tanggal 28 April 1999, hal yang paling saya sukai dari Ami adalah saat dia mau mendengarkan keluh kesah saya berjam-jam atau mendengar cerita saya tentang orang yang sama berulang-ulang, mungkin dia sudah bosan, tapi dia tetap mendengarkan, (makasih Ami).

Saya berteman dengan dia sudah 3 tahun, saya mengenalnya karena kami sekelas dari kelas VII-IX, hampir tidak ada rahasia diantara kami, kami saling mengetahui kebiasaan-kebiasaan buruk masing-masing. kami bukan seperti sahabat pada umumnya, kami punya kebiasaan yang berbeda, kesukaan yang berbeda, tapi itu semua seperti lem yang merekatkan kami berdua.

Entah apa lagi yang ingin saya katakan untuk menggabarkan keindahan memiliki sahabat seperti Ami. buat Ami yang sekarang sedang merayakan ulang tahunnya saya cuma mengharapkan semua keinginanmu tercapai, semakin dewasa tentunya, dan jangan galau lagi!

karena foto-foto Ami ada di laptop saya, dan saya tidak menggunakan laptop itu sekarang, jadi saya tidak bisa memperlihatkan foto Ami yang cantiknya luar biasa.

Jumat, 26 April 2013

1 cm Antara Bahagia dan Kecewa



Maaf gambarnya kurang bagus *kepepet

1 cm itulah yang saya dapatkan saat melihat ukuran tinggi badan saya, 1 cm yang mengubah tinggi saya dari 156 menjadi 157. Antara bahagia dan kecewa melihatnya.

Mengapa Bahagia? Karena setelah berbulan-bulan akhirnya 1 cm memecah kebuntuan di  angka 156 cm yang dulu. Dan kenapa kecewa? Karena mengapa setelah berbulan-bulan hanya 1 cm perubahan tinggi badan saya. Padahal rata-rata penambahan tinggi badan saya adalah 6,5 cm setiap tahunnya atau 0,54 cm setiap bulannya.

Mungkin kalian bingung dari mana saya mendapatkan hasil 6,5 cm itu, saya mendapatkannya dari hasil observasi (pengamatan) dan penelitian kecil yang saya lakukan dengan alat-alat sederhana (alat pengukur tinggi badan, secarik kertas, bolpen, dan ingatan tentang berapa tinggi badan saya sewaktu lahir).

Pertama-tama saya mengukur tinggi badan, ternyata 157 cm. Sedang saya lahir dengan panjang 53 cm. jadi 157 - 53 = 104 cm. Selama hidup saya bertumbuh sampai 104 cm, umur saya sekarang 16 tahun (kurang 15 hari), jika total pertumbuhan saya dibagi dengan usia saya (104 cm  : 16 tahun = 6,5 cm/tahun) didapatkanlah hasil di atas. Mungkin bisa kalian coba di rumah.

Bukannya saya tidak bersyukur atas 1 cm tinggi badan yang dipercayakan lagi oleh Tuhan untuk diberikan kepada saya, tapi saya ingin punya tinggi badan 170 cm itu berarti saya masih membutuhkan 13 cm, apa jadinya kalau saya hanya bertumbuh 1 cm dalam waktu yang relativ lama.  

Banyak yang mengatakan kalau ingin bertumbuh tinggi harus banyak konsumsi makanan atau minuman yang memiliki kadar kalsium yang tinggi, saya sudah melakukan itu, minum susu di pagi dan malam hari. Ada juga yang mengatakan kurangi minuman soda, saya juga mengiyakan. Perbanyak olahraga seperti basket dan renang, nah ini yang susah bagi saya, karena saya kurang punya waktu untuk bermain basket (lagian di rumah tidak ada bola basket) sedangkan renang, saya akui saya tidak bisa renang, ini sedikit aneh, karena dulu ibu saya mengambil jurusan pendidikan olahraga sewaktu kuliah, saya juga suka olahraga  tapi renang ternyata pengecualian bagi saya.

Tapi di balik 1 cm pertumbuhan saya, saya mengucap syukur kepada-Nya karena masih mau menambahkan tinggi badan saya. Alhamdulillah 1 cm!

Cinta dan Kimia, Bagaimana Bisa?


Kamis pagi saya baru saja melepas rindu dengan teman-teman kelas (khususnya cewek). Nah  kami membahas banyak hal, mulai dari carut marutnya UN tahun ini, hingga tentang kepergian senior-senior cakep yang gak bakalan satu sekolah lagi dengan kami (korban PHP). Salah satunya ada Rezky (nama samaran), ia menyukai senior yang sudah terkenal punya banyak fans, cakep, berkarisma tentunya, nilai tambah dari dia adalah karena dia dulu adalah salah satu pengurus OSIS, penyumbang banyak piala untuk sekolah, dan sudah pasti pintar! tapi sayang dia cuek dan kurang peka, bahkan bisa dibilang tidak peka sama sekali.

Apa hubungannya dengan saya? Karena (sepertinya) saya juga korban PHP, saya mengagumi seseorang, yang namanya saya tidak bisa sebutkan, dari rasa kagum ini berubah menjadi suka, nah rasa suka ini ternyata menjadi penyebab saya banyak melamunkan orang ini, memikiran dia sebelum tidur, dan saat bangun dia lagi yang terbenam dalam pikiran saya, yah pasti kalian juga pernah merasakan hal ini, mungkin sedikit gila tapi memang seperti itulah, (ini suka atau cinta?).

Setelah saya browsing ternyata ada suatu ilmu yang bisa menjelaskan kasus saya dan teman-teman seperjuangan saya, para korban PHP, ilmu ini bisa kalian kuasai hanya jika kalian, bertapa empat tahun di bawah pohon cabe, dan selama itu kalian juga harus puasa, gak boleh ngomong, gak boleh berkedip, gak boleh tidur -saya tulis apa ini- oke lanjut saja, yang tadi itu bercanda, sebenarnya  ilmu yang bisa menjelaskan kasus di atas adalah ilmu kimia.

Kenapa kimia? Karena ilmu ini bisa menjelaskan adanya beberapa zat kimia oleh otak kita yang berperan dalam kejadian seperti di atas. Ada beberapa senyawa yang bertanggung jawab atas segala tingkah laku aneh kita selama kita jatuh, bangun, jungkir, balik dengan cinta, yaitu :

1.       Pheromones
Senyawa ini menimbulkan rasa suka, yah kayak para remaja cewek yang naksir cowok dan sebaliknya, buat kita membayangkan orang yang kita taksir itu terus-menerus.

2.       Oxytocin
 ini berperan dalam kalimat “aku rindu kamu”.

3.       Vasopressin
Bikin orang jadi setia.

4.       Neropinepherine  
Kalau jatuh cinta bawaannya semangat, senang, dan senyum-senyum sendiri, nah itu adalah peran dari si Neropinepherine ini.


5.       Dopamine
Beberapa bulan pertama ketika kita menyukai lawan jenis, ada bagian dari otak kita mengeluarkan zat ini. Akibatnya kita jadi susah tidur, dan memikirkan dia terus, juga ada perasaan melayang, (udah sampai ke langit ke-7 gak? :D), sangat bersemangat, dan jadi malas makan.




6.       Oxytocin
Zat ini biasanya berperan kalau kita sudah jadian *ciecie kita merasa bahwa kita saling terikat dengan pasangan dan pengen terus ada dia di samping kita.

Cinta, sejuta rasanya, buat kita jadi gila, membutakan mata, melumpuhkan logika, terlalu banyak syair-syair cinta, katanya kita gak bisa jelasin gimana rasa cinta itu, tapi cuma bisa dirasain. Ngomong-ngomong cinta, tentu ada perasaan sebelum dan sesudah cinta bukan? Sebelum cinta itu namanya suka dan sesudah cinta itu namanya sayang (kata orang-orang). 

Entah apa yang tepat menggambarkan perasaan saya sekarang, tapi seperti saya bilang sebelumnya cinta itu gak bisa dijelasin, tapi dirasain! Jadi selamat merasakan cinta kalian masing-masing, dan ingat ada cinta berarti ada sakit hati (kalau cinta yang kalian dapatkan belum cocok), jadi persiapkan hatimu, kalau menurut orang-orang bijak, saat kamu menerima cinta, saat itu juga kamu harus bersiap kalau-kalau kamu harus melepaskannya.  Dari pada kelamaan ngetik dan tiba-tiba saya berubah jadi Maria Teguh mending saya akhiri postingannya sampai di sini. 

Kalau ada yang kurang tepat, tolong komentarnya  :)




Minggu, 21 April 2013

Kamu yang Perasaannya Kurang Peka

Kamu!
Iya, kamu, kamu yang perasaannya kurang peka. Kamu yang mungkin juga sedang bimbang, dan aku yang mulai meradang. Hampir setiap pertemuan kita, ku catat, agar tidak menguap begitu saja walau sudah ku rekam dalam ingatan. 

Apa kamu merasakannya? Rasa aneh yang tak tau dari mana asalnya, rasa aneh yang membuat jantungku berdetak lebih cepat, rasa aneh yang membuatku bertanya-tanya. Apa aku menyukaimu?. Iya, aku memang menyukaimu, kamu yang perasaannya kurang peka. 

Tidak, kali ini kisah tentangmu tidak ku catat dalam buku biru, aku ingin punya catatan khusus tentang anak adam yang menyita ribuan detik, menit, bahkan jam yang ku miliki hanya untuk mengaguminya. Dia adalah kamu, kamu yang perasaannya kurang peka. 

Bagaimana bisa aku menyukaimu, padahal saat itu tak ada satu kata pun yang menghiasi pertemuan pertama kita, saat itu aku menyusupkan tanganku dalam tanganmu namun tanpa kata, itu hanya jabat tangan, sebagai tanda ucapan terima kasih, mungkin biasa tapi untukku itu bermakna,. Saat itu semua larut dalam suka cita, kamu berhasil, aku berhasil, mereka berhasil, kita semua berhasil. Kamu tidak tau, mungkin tidak mau tau bahwa saat itu aku sesekali mencuri pandang ke arahmu, kamu yang perasaannya kurang peka.

Sudah ratusan hari, sejak hal itu terlewati, tapi rasa ini terus menyelimuti. Suatu hari tanpa terduga ada pesan singkat darimu, Aku masih ingat itu ”adik kamu datang kan di cokro, ada yang ingin aku tanyakan” seperti itu katamu pada pesan singkat yang kau kirim tanggal 22 maret, dan tidak kamu biarkan orang lain mengetahuinya, tapi aku sadar mungkin itu bercampur ragu, makanya jadi malu-malu. Kamu ragu juga malu? Akupun begitu, aku malu, tapi tidak ragu terhadap perasaanku padamu, kamu yang perasaannya kurang peka. 

Rasa penasaran itu masih bersarang di hati, apa gerangan yang ingin kamu tanyakan, apakah kamu ingin mengakui perasaan yang sama sepertiku? Aku berandai-andai. Mungkin banyak pilihan untukku, tapi aku hanya ingin memilih satu, yaitu kamu, kamu yang perasaannya kurang peka.

Senyum tipis yang manis, suara serak yang membuat hati berderak, sikap malu yang lucu, postur mungil seolah centil. Aku menyukai itu, tapi bukan karena itu aku menyukaimu. Aku mulai gerah, tolong pekalah, agar aku tidak berbalik arah. Ini untukmu, untuk kamu yang perasaannya kurang peka.  


Raden Ajeng Kartini



             


Nama Lengkap                      : Raden Ajeng Kartini
Tempat, Tanggal Lahir          : Jepara, 21 April 1879
Ayah                                      : Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat
Ibu                                         : M.A Ngasirah
Suami                                    : K. Raden Mas Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat
Anak                                      : Raden Mas Soesalit

Kartini bersekolah hanya sampai umurnya 12 tahun, karena ia dipingit oleh ayahnya. Nah saat dipingit Kartini menghabiskan waktu untuk membaca,  dan saling berkirim surat dengan nyonya Abendanon, Kartini juga mengirimkan surat untuk memohon beasiswa, agar dapat   belajar di Belanda. Tapi sayangnya beasiswa yang di dapatkan tidak sempat digunakan, karena ia harus menikah dengan Raden Mas Adipati,. 12 november 1903, saat itu umur Kartini 24 tahun.
Kartini mendirikan sekolah wanita atas persetujuan suaminya. Kartini melahirkan seorang anak laki-laki yaitu Raden Mas Soesalit tanggal 13 september 1904, empat hari setelah melahirkan, tepatnya 17 september 1904, Kartini tutup usia di umurnya yang masih muda, 25 tahun. 

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya : Menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”
-Raden Ajeng Kartini-

Kamis, 18 April 2013

Labil, Buku Biru, Entahlah.


Beberapa hari, atau minggu, bahkan bulan yang lalu, kelas saya (X-2) mendapat tugas dari guru B. Indonesia, ibu Muliyati. Kami ditugaskan untuk membacakan puisi, entah itu puisi buatan sendiri atau puisi orang lain. Kebetulan tugas itu dadakan, jadi untuk teman-teman yang (maaf) gak mau repot, mereka tinggal memilih untuk mengambil puisi yang ada di buku (Bahasa Indonesia) tentunya, atau bisa browsing. 
 
 Nah, hari itu (kebetulan) saya lagi bawa buku biru saya.

 




ini dia beberapa isi dari buku biru










Mungkin Nampak seperti buku biasa, tapi ini sudah seperti buku bulanan, eh maksud saya buku harian (walau memang saya menuliskan cerita tidak setiap hari). Di dalam buku ini ada tulisan saya tentang kegalauan, kegundahan, dan semua yang menyangkut kelabilan di masa remaja -_- bukan cuma itu saja, di buku biru ini juga saya menuliskan puisi-puisi yang saya buat sewaktu masih SMP dulu.
Berikut puisi-puisi yang saat itu sempat diminta teman untuk dibacakan di depan kelas.   
           


MASA  LALU

Ketika ingatan memutar kisah masa lalu
Dimana ada kesedihan dan kebahagian yang datang silih berganti
Mewarnai hari-hari bersamamu
Nyanyian rindu sering ku dengarkan, mengiring langkah ke masa depan
Meraih cita dan cinta yang diimpikan
Ketika lidah telah keluh untuk berucap, ketika mata sudah tak kuasa membendung butiran bening yang terjatuh
Ketika tangan tak kuasa menggapai, ketika langkah kaki sudah terhenti
Hanya hati yang dapat bersabar untuk menanti kerinduan yang telah lama berkobar
Hanya dapat tersembunyi di dalam hati
Membiarkan waktu mengiring langkah ke masa depan yang tak terbayangkan
Meninggalkan kebersamaan yang pernah di lalui yang akan selalu di kenang
Bersama, semuanya, dan selamanya.
 


SAJAK NEGERI
Di balik senja menerobos sejarah
Peradaban dunia bertahtakan murka
Dunia fana, dunia kita
Awan kelam, bersandingkan senyuman masam
Berlumur darah kenaifan.

Kubalut goresan luka dengan ideologi yang tersisa
Berderak dalam getaran keterpaksaan
Bersua dalam impian akan revolusi peradaban.

Wajah pucat pasih
Gelak tawa diantara jerit tangis
Bayang-bayang semakin menjauh
Terdampar di luasnya Gurun Sahara
Terpatri di hati ini,
Akan senyuman berselimut kebohongan.
27 MEI 2011



 CURAHAN HATI

Denting berbunyi memecah kesunyian
Di selimuti angin malam
Bersama jutaan bintang
Bermandikan cahaya bulan.

Kaki tak dapat melangkah
Mata tak dapat terpejam
Tangan tak kuasa meraih
Angan-angan tak bisa lagi menerawang.

                                                                                  Ujung tombak bersimbah darah
                                                                                  Menghantarkan kepergiannya
                                                                                  Api berkobar  membakar jasad
                                                                                  Terbujur kaku yang nantinya akan menjadi abu.
    
                                                                                  Derai tangis tak ada artinya
                                                                                 1001 kisah tentang Ia yang duduk di atas awan
                                                                                  Menceritakan keagungan-Nya pada anak manusia
                                                                                  Diam sembilu membalut luka tanpa kata.
25 april 2011




HILANG
Ketika semua ingin terucap
Hati terisak, mata terbelalak, tanahku tersentak
Memoderensasikan kehidupan, mengikuti zaman modern
Tapi ingat! Hukum Tuhan tak pernah dimoderensasikan

Taruhannya akal sehat, untuk nikmat sesaat
Mengatasnamakan nasional, harusnya bisa berfikir rasional
Bak remaja, mengejar satu, meninggalkan seribu
Bisakah seperti dahulu, adat dan budaya yang dipegang teguh.



Puisi ini selalu bisa menghasilkan tawa, gaya bahasanya, perbendaharaan katanya, terlalu kekanak-kanakan, tapi yah dulukan saya memang masih anak-anak labil. Saya sih cukup bersyukur pernah membuat karya (yang biasa) di masa labil saya dulu. Anehnya sekarang seolah-olah ilham yang ada di kepala selalu menguap sebelum sempat dituangkan dalam bentuk tulisan, ada apa ini?. Sepertinya benar, masa labil itu sarat akan produktifitas, atau mungkin karena sekarang saya sudah tidak labil, makanya kurang produktif lagi? Atau masih labil, tapi kadar kelabilan saya sudah menurun? Haaa sempat saya berfikir apa saya harus menjadi remaja yang labil seperti dulu. Tapi saya harus akui semenjak menjajaki masa SMA, rasanya hari-hari itu hanya untuk mengerjakan tugas, tugas, tugas, dan tugas (nah, malah curhat).

Oke, sekian dulu entri kali ini, komentarnya ditunggu :)