Kamu!
Iya, kamu, kamu yang perasaannya kurang
peka. Kamu yang mungkin juga sedang bimbang, dan aku yang mulai meradang. Hampir
setiap pertemuan kita, ku catat, agar tidak menguap begitu saja walau sudah ku
rekam dalam ingatan.
Apa kamu merasakannya? Rasa aneh yang tak
tau dari mana asalnya, rasa aneh yang membuat jantungku berdetak lebih cepat,
rasa aneh yang membuatku bertanya-tanya. Apa aku menyukaimu?. Iya, aku memang menyukaimu,
kamu yang perasaannya kurang peka.
Tidak, kali ini kisah tentangmu tidak ku
catat dalam buku biru, aku ingin punya catatan khusus tentang anak adam yang
menyita ribuan detik, menit, bahkan jam yang ku miliki hanya untuk
mengaguminya. Dia adalah kamu, kamu yang perasaannya kurang peka.
Bagaimana bisa aku menyukaimu, padahal saat
itu tak ada satu kata pun yang menghiasi pertemuan pertama kita, saat itu aku
menyusupkan tanganku dalam tanganmu namun tanpa kata, itu hanya jabat tangan, sebagai
tanda ucapan terima kasih, mungkin biasa tapi untukku itu bermakna,. Saat itu
semua larut dalam suka cita, kamu berhasil, aku berhasil, mereka berhasil, kita
semua berhasil. Kamu tidak tau, mungkin tidak mau tau bahwa saat itu aku
sesekali mencuri pandang ke arahmu, kamu yang perasaannya kurang peka.
Sudah ratusan hari, sejak hal itu terlewati,
tapi rasa ini terus menyelimuti. Suatu hari tanpa terduga ada pesan singkat
darimu, Aku masih ingat itu ”adik kamu datang kan di cokro, ada yang ingin aku tanyakan”
seperti itu katamu pada pesan singkat yang kau kirim tanggal 22 maret, dan tidak
kamu biarkan orang lain mengetahuinya, tapi aku sadar mungkin itu bercampur
ragu, makanya jadi malu-malu. Kamu ragu juga malu? Akupun begitu, aku malu, tapi
tidak ragu terhadap perasaanku padamu, kamu yang perasaannya kurang peka.
Rasa penasaran itu masih bersarang di hati,
apa gerangan yang ingin kamu tanyakan, apakah kamu ingin mengakui perasaan yang
sama sepertiku? Aku berandai-andai. Mungkin banyak pilihan untukku, tapi aku
hanya ingin memilih satu, yaitu kamu, kamu yang perasaannya kurang peka.
Senyum tipis yang manis, suara serak yang
membuat hati berderak, sikap malu yang lucu, postur mungil seolah centil. Aku
menyukai itu, tapi bukan karena itu aku menyukaimu. Aku mulai gerah, tolong
pekalah, agar aku tidak berbalik arah. Ini untukmu, untuk kamu yang perasaannya
kurang peka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar