Minggu, 21 April 2013

Kamu yang Perasaannya Kurang Peka

Kamu!
Iya, kamu, kamu yang perasaannya kurang peka. Kamu yang mungkin juga sedang bimbang, dan aku yang mulai meradang. Hampir setiap pertemuan kita, ku catat, agar tidak menguap begitu saja walau sudah ku rekam dalam ingatan. 

Apa kamu merasakannya? Rasa aneh yang tak tau dari mana asalnya, rasa aneh yang membuat jantungku berdetak lebih cepat, rasa aneh yang membuatku bertanya-tanya. Apa aku menyukaimu?. Iya, aku memang menyukaimu, kamu yang perasaannya kurang peka. 

Tidak, kali ini kisah tentangmu tidak ku catat dalam buku biru, aku ingin punya catatan khusus tentang anak adam yang menyita ribuan detik, menit, bahkan jam yang ku miliki hanya untuk mengaguminya. Dia adalah kamu, kamu yang perasaannya kurang peka. 

Bagaimana bisa aku menyukaimu, padahal saat itu tak ada satu kata pun yang menghiasi pertemuan pertama kita, saat itu aku menyusupkan tanganku dalam tanganmu namun tanpa kata, itu hanya jabat tangan, sebagai tanda ucapan terima kasih, mungkin biasa tapi untukku itu bermakna,. Saat itu semua larut dalam suka cita, kamu berhasil, aku berhasil, mereka berhasil, kita semua berhasil. Kamu tidak tau, mungkin tidak mau tau bahwa saat itu aku sesekali mencuri pandang ke arahmu, kamu yang perasaannya kurang peka.

Sudah ratusan hari, sejak hal itu terlewati, tapi rasa ini terus menyelimuti. Suatu hari tanpa terduga ada pesan singkat darimu, Aku masih ingat itu ”adik kamu datang kan di cokro, ada yang ingin aku tanyakan” seperti itu katamu pada pesan singkat yang kau kirim tanggal 22 maret, dan tidak kamu biarkan orang lain mengetahuinya, tapi aku sadar mungkin itu bercampur ragu, makanya jadi malu-malu. Kamu ragu juga malu? Akupun begitu, aku malu, tapi tidak ragu terhadap perasaanku padamu, kamu yang perasaannya kurang peka. 

Rasa penasaran itu masih bersarang di hati, apa gerangan yang ingin kamu tanyakan, apakah kamu ingin mengakui perasaan yang sama sepertiku? Aku berandai-andai. Mungkin banyak pilihan untukku, tapi aku hanya ingin memilih satu, yaitu kamu, kamu yang perasaannya kurang peka.

Senyum tipis yang manis, suara serak yang membuat hati berderak, sikap malu yang lucu, postur mungil seolah centil. Aku menyukai itu, tapi bukan karena itu aku menyukaimu. Aku mulai gerah, tolong pekalah, agar aku tidak berbalik arah. Ini untukmu, untuk kamu yang perasaannya kurang peka.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar