Beberapa
hari, atau minggu, bahkan bulan yang lalu, kelas saya (X-2) mendapat tugas dari
guru B. Indonesia, ibu Muliyati. Kami ditugaskan untuk membacakan puisi, entah
itu puisi buatan sendiri atau puisi orang lain. Kebetulan tugas itu dadakan,
jadi untuk teman-teman yang (maaf) gak mau repot, mereka tinggal memilih untuk
mengambil puisi yang ada di buku (Bahasa Indonesia) tentunya, atau bisa
browsing.
Nah, hari itu
(kebetulan) saya lagi bawa buku biru saya.
ini dia beberapa isi dari buku biru
Mungkin Nampak seperti buku biasa, tapi ini sudah seperti buku bulanan, eh
maksud saya buku harian (walau memang saya menuliskan cerita tidak setiap
hari). Di dalam buku ini ada tulisan saya tentang kegalauan, kegundahan, dan
semua yang menyangkut kelabilan di masa remaja -_- bukan cuma itu saja, di buku
biru ini juga saya menuliskan puisi-puisi yang saya buat sewaktu masih SMP
dulu.
Berikut puisi-puisi yang saat itu sempat diminta teman
untuk dibacakan di depan kelas.
MASA LALU
Ketika ingatan
memutar kisah masa lalu
Dimana ada
kesedihan dan kebahagian yang datang silih berganti
Mewarnai hari-hari
bersamamu
Nyanyian rindu
sering ku dengarkan, mengiring langkah ke masa depan
Meraih cita dan
cinta yang diimpikan
Ketika lidah telah
keluh untuk berucap, ketika mata sudah tak kuasa membendung butiran bening yang
terjatuh
Ketika tangan tak
kuasa menggapai, ketika langkah kaki sudah terhenti
Hanya hati yang
dapat bersabar untuk menanti kerinduan yang telah lama berkobar
Hanya dapat
tersembunyi di dalam hati
Membiarkan waktu
mengiring langkah ke masa depan yang tak terbayangkan
Meninggalkan
kebersamaan yang pernah di lalui yang akan selalu di kenang
Bersama, semuanya,
dan selamanya.
SAJAK
NEGERI
Di balik senja menerobos
sejarah
Peradaban dunia bertahtakan
murka
Dunia fana, dunia kita
Awan kelam, bersandingkan
senyuman masam
Berlumur darah kenaifan.
Kubalut goresan luka dengan
ideologi yang tersisa
Berderak dalam getaran
keterpaksaan
Bersua dalam impian akan
revolusi peradaban.
Wajah pucat pasih
Gelak tawa diantara jerit
tangis
Bayang-bayang semakin menjauh
Terdampar di luasnya Gurun Sahara
Terpatri di hati ini,
Akan senyuman berselimut
kebohongan.
27 MEI 2011
CURAHAN HATI
Denting berbunyi memecah kesunyian
Di selimuti angin malam
Bersama jutaan bintang
Bermandikan cahaya bulan.
Kaki tak dapat melangkah
Mata tak dapat terpejam
Tangan tak kuasa meraih
Angan-angan tak bisa lagi menerawang.
Ujung tombak bersimbah darah
Menghantarkan
kepergiannya
Api berkobar membakar jasad
Terbujur kaku
yang nantinya akan menjadi abu.
Derai tangis tak ada artinya
1001 kisah
tentang Ia yang duduk di atas awan
Menceritakan keagungan-Nya pada anak manusia
Diam sembilu
membalut luka tanpa kata.
25
april 2011
HILANG
Ketika semua
ingin terucap
Hati terisak,
mata terbelalak, tanahku tersentak
Memoderensasikan
kehidupan, mengikuti zaman modern
Tapi ingat!
Hukum Tuhan tak pernah dimoderensasikan
Taruhannya
akal sehat, untuk nikmat sesaat
Mengatasnamakan
nasional, harusnya bisa berfikir rasional
Bak
remaja, mengejar satu, meninggalkan seribu
Bisakah
seperti dahulu, adat dan budaya yang dipegang teguh.
Puisi ini
selalu bisa menghasilkan tawa, gaya bahasanya, perbendaharaan katanya, terlalu
kekanak-kanakan, tapi yah dulukan saya memang masih anak-anak labil. Saya sih
cukup bersyukur pernah membuat karya (yang biasa) di masa labil saya dulu.
Anehnya sekarang seolah-olah ilham yang ada di kepala selalu menguap sebelum
sempat dituangkan dalam bentuk tulisan, ada apa ini?. Sepertinya benar, masa
labil itu sarat akan produktifitas, atau mungkin karena sekarang saya sudah
tidak labil, makanya kurang produktif lagi? Atau masih labil, tapi kadar
kelabilan saya sudah menurun? Haaa sempat saya berfikir apa saya harus menjadi
remaja yang labil seperti dulu. Tapi saya harus akui semenjak menjajaki masa
SMA, rasanya hari-hari itu hanya untuk mengerjakan tugas, tugas, tugas, dan
tugas (nah, malah curhat).
Oke, sekian
dulu entri kali ini, komentarnya ditunggu :)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar