Kamis, 18 April 2013

Labil, Buku Biru, Entahlah.


Beberapa hari, atau minggu, bahkan bulan yang lalu, kelas saya (X-2) mendapat tugas dari guru B. Indonesia, ibu Muliyati. Kami ditugaskan untuk membacakan puisi, entah itu puisi buatan sendiri atau puisi orang lain. Kebetulan tugas itu dadakan, jadi untuk teman-teman yang (maaf) gak mau repot, mereka tinggal memilih untuk mengambil puisi yang ada di buku (Bahasa Indonesia) tentunya, atau bisa browsing. 
 
 Nah, hari itu (kebetulan) saya lagi bawa buku biru saya.

 




ini dia beberapa isi dari buku biru










Mungkin Nampak seperti buku biasa, tapi ini sudah seperti buku bulanan, eh maksud saya buku harian (walau memang saya menuliskan cerita tidak setiap hari). Di dalam buku ini ada tulisan saya tentang kegalauan, kegundahan, dan semua yang menyangkut kelabilan di masa remaja -_- bukan cuma itu saja, di buku biru ini juga saya menuliskan puisi-puisi yang saya buat sewaktu masih SMP dulu.
Berikut puisi-puisi yang saat itu sempat diminta teman untuk dibacakan di depan kelas.   
           


MASA  LALU

Ketika ingatan memutar kisah masa lalu
Dimana ada kesedihan dan kebahagian yang datang silih berganti
Mewarnai hari-hari bersamamu
Nyanyian rindu sering ku dengarkan, mengiring langkah ke masa depan
Meraih cita dan cinta yang diimpikan
Ketika lidah telah keluh untuk berucap, ketika mata sudah tak kuasa membendung butiran bening yang terjatuh
Ketika tangan tak kuasa menggapai, ketika langkah kaki sudah terhenti
Hanya hati yang dapat bersabar untuk menanti kerinduan yang telah lama berkobar
Hanya dapat tersembunyi di dalam hati
Membiarkan waktu mengiring langkah ke masa depan yang tak terbayangkan
Meninggalkan kebersamaan yang pernah di lalui yang akan selalu di kenang
Bersama, semuanya, dan selamanya.
 


SAJAK NEGERI
Di balik senja menerobos sejarah
Peradaban dunia bertahtakan murka
Dunia fana, dunia kita
Awan kelam, bersandingkan senyuman masam
Berlumur darah kenaifan.

Kubalut goresan luka dengan ideologi yang tersisa
Berderak dalam getaran keterpaksaan
Bersua dalam impian akan revolusi peradaban.

Wajah pucat pasih
Gelak tawa diantara jerit tangis
Bayang-bayang semakin menjauh
Terdampar di luasnya Gurun Sahara
Terpatri di hati ini,
Akan senyuman berselimut kebohongan.
27 MEI 2011



 CURAHAN HATI

Denting berbunyi memecah kesunyian
Di selimuti angin malam
Bersama jutaan bintang
Bermandikan cahaya bulan.

Kaki tak dapat melangkah
Mata tak dapat terpejam
Tangan tak kuasa meraih
Angan-angan tak bisa lagi menerawang.

                                                                                  Ujung tombak bersimbah darah
                                                                                  Menghantarkan kepergiannya
                                                                                  Api berkobar  membakar jasad
                                                                                  Terbujur kaku yang nantinya akan menjadi abu.
    
                                                                                  Derai tangis tak ada artinya
                                                                                 1001 kisah tentang Ia yang duduk di atas awan
                                                                                  Menceritakan keagungan-Nya pada anak manusia
                                                                                  Diam sembilu membalut luka tanpa kata.
25 april 2011




HILANG
Ketika semua ingin terucap
Hati terisak, mata terbelalak, tanahku tersentak
Memoderensasikan kehidupan, mengikuti zaman modern
Tapi ingat! Hukum Tuhan tak pernah dimoderensasikan

Taruhannya akal sehat, untuk nikmat sesaat
Mengatasnamakan nasional, harusnya bisa berfikir rasional
Bak remaja, mengejar satu, meninggalkan seribu
Bisakah seperti dahulu, adat dan budaya yang dipegang teguh.



Puisi ini selalu bisa menghasilkan tawa, gaya bahasanya, perbendaharaan katanya, terlalu kekanak-kanakan, tapi yah dulukan saya memang masih anak-anak labil. Saya sih cukup bersyukur pernah membuat karya (yang biasa) di masa labil saya dulu. Anehnya sekarang seolah-olah ilham yang ada di kepala selalu menguap sebelum sempat dituangkan dalam bentuk tulisan, ada apa ini?. Sepertinya benar, masa labil itu sarat akan produktifitas, atau mungkin karena sekarang saya sudah tidak labil, makanya kurang produktif lagi? Atau masih labil, tapi kadar kelabilan saya sudah menurun? Haaa sempat saya berfikir apa saya harus menjadi remaja yang labil seperti dulu. Tapi saya harus akui semenjak menjajaki masa SMA, rasanya hari-hari itu hanya untuk mengerjakan tugas, tugas, tugas, dan tugas (nah, malah curhat).

Oke, sekian dulu entri kali ini, komentarnya ditunggu :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar