Aku
hanya takut salah seorang dari kita, aku atau kamu, melupakan, dan salah satu
dari kita terlupakan. Aku hanya takut kita lupa tempat kita berpisah, karena
ditempat itulah kita berjanji akan bertemu lagi.
“jika
kita sudah dewasa”
Terdengar
lucu memang, terdengar sok bijak, kita masih remaja berusia 16 tahun, yang
berpisah dan berpura-pura tak takut akan perpisahan, karena kita saling
menyukai. menyukai keindahan dan keburukan yang ada di dalam diri orang yang
kita sayangi, status tidak penting,
hubunganlah yang penting, itu yang mendasari perpisahan kita, sepertinya.
“Lalu?
Siapa yang mengambil jalan ini?” aku menunjuk jalan yang didepannya ada
tikungan kearah kanan.
“Siapapun
yang mengambilnya, salah satu dari kita akan mengambil jalan yang lain.” Katamu.
Aku
memaksakan diri untuk tersenyum di hadapanmu. Senyum masam, entah apa bisa kamu
merasakannya. Kau membalas senyumanku, dengan senyum khasmu, tapi tidak ku
temui kesedihan di dalamnya, di dalam senyumanmu, senyuman yang selalu ku
sukai. Mungkin karena kamu yang menginginkan ini. Entahlah, saat pertamakali
kita bersama, aku bahkan sudah menyiapkan hari ini, hari dimana kita akan
melalui jalan yang berbeda, tapi tetap saja sakit.
Apa
aku kurang mempersiapkan perpisahan kita? Rasanya tidak, menyedihkan dan
menyakitkan, itu sudah harga mati untuk sebuah perpisahan. Tapi kenapa aku
tidak dapati lirihnya perpisahan di senyumanmu itu?
Siapapun harus siap sama perpisahan sih menurutku, bahkan sejak pertama kali kita ketemu sama siapapun.
BalasHapusWalaupun dipersiapkan, tetap masih sakit kayaknya kak.
Hapus