Sabtu, 08 Juni 2013

Mungkin Perpisahan.....

Aku hanya takut salah seorang dari kita, aku atau kamu, melupakan, dan salah satu dari kita terlupakan. Aku hanya takut kita lupa tempat kita berpisah, karena ditempat itulah kita berjanji akan bertemu lagi.

“jika kita sudah dewasa” 

Terdengar lucu memang, terdengar sok bijak, kita masih remaja berusia 16 tahun, yang berpisah dan berpura-pura tak takut akan perpisahan, karena kita saling menyukai. menyukai keindahan dan keburukan yang ada di dalam diri orang yang kita sayangi, status  tidak penting, hubunganlah yang penting, itu yang mendasari perpisahan kita, sepertinya.

“Lalu? Siapa yang mengambil jalan ini?” aku menunjuk jalan yang didepannya ada tikungan kearah kanan.

“Siapapun yang mengambilnya, salah satu dari kita akan mengambil jalan yang lain.” Katamu.

Aku memaksakan diri untuk tersenyum di hadapanmu. Senyum masam, entah apa bisa kamu merasakannya. Kau membalas senyumanku, dengan senyum khasmu, tapi tidak ku temui kesedihan di dalamnya, di dalam senyumanmu, senyuman yang selalu ku sukai. Mungkin karena kamu yang menginginkan ini. Entahlah, saat pertamakali kita bersama, aku bahkan sudah menyiapkan hari ini, hari dimana kita akan melalui jalan yang berbeda, tapi tetap saja sakit.

Apa aku kurang mempersiapkan perpisahan kita? Rasanya tidak, menyedihkan dan menyakitkan, itu sudah harga mati untuk sebuah perpisahan. Tapi kenapa aku tidak dapati lirihnya perpisahan di senyumanmu itu?

2 komentar:

  1. Siapapun harus siap sama perpisahan sih menurutku, bahkan sejak pertama kali kita ketemu sama siapapun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walaupun dipersiapkan, tetap masih sakit kayaknya kak.

      Hapus