Beberapa hari yang lalu, tepatnya dua minggu
yang lalu, kelas saya dapat tugas lagi dari guru B. Indonesia, tugasnya ialah
membuat cerpen berdasarkan pengalaman pribadi, waktunya cuma dua hari, bukannya
membuat cerpen berdasarkan pengalaman pribadi saya malah mengarang bebas, tapi
masih ada sedikit unsur pengalaman
pribadi di dalamnya. Nah ini dia
cerpen saya.
Aku berdiri memandang keluar
jendela, titik air hujan masih saja membasahi jendela kamar, entah kapan
hujannya akan reda. Genangan air di sana-sini menandakan banyak lubang yang
menganga di jalan. Sedari tadi tugas sekolah sudah aku selesaikan, sehingga
bisa memberiku banyak waktu mengamati tetesan hujan, mungkin berasal dari awan
Nimbo Stratus pikirku. Kutilik jam di dinding kamar, ternyata sudah pukul 01.00
lewat, sudah sangat malam, tetapi tidak ada alasan yang mengharuskanku bergegas
merebahkan tubuh, dan menyusupkannya ke dalam selimut.
Pesan singkat tanggal 1 mei dari
akun twitterku, membuatku gelisah
seperti sekarang. Ini pertama kalinya dia memintaku menemuinya, ada apa
gerangan pikirku dalam hati.
“Dua
hari lagi, aku sudah menunggu ini dari setahun yang lalu.” Ucapku lalu segera
tidur karena sudah hampir pukul 02.00 pagi.
Esok paginya aku menceritakan hal
ini pada Rahmi. Rahmi adalah sahabatku satu-satunya yang mengetahui semua hal
dalam hidupku, dia juga mengetahui tentang perasaanku pada Danny, betul-betul tidak
ada rahasia diantara kami. Aku mengenalnya sudah tiga tahun, persahabatan kami
berawal saat kami kelas VII SMP.
“Berarti
besok kamu bakalan ketemu sama dia dong?” Tanya Rahmi.
“Aku
sudah lama menunggu ini, dan kau tahu itu.”
“Dimana?”
Tanyanya yang belum sempat mengiyakan ucapkanku sebelumnya.
“Dimana
apanya?”
“Kalian
janjian ketemuan dimana?”
“Di
Cokro, sekalian liatin anak-anak lomba.”
Rahmi hanya menganggukan kepalanya
diiringi bel yang berbunyi, menandakan jam istirahat telah berakhir dan digantikan
derngan jam pelajaran berikutnya. Aku melewati hari ini dengan gelisah, aku mulai merangkai kata-kata, jangan sampai
besok aku bertemu dengan dia dan sama sekali tidak bisa mengatur caraku
berbicara, aku tidak ingin kejadian memalukan dulu terulang lagi.
“Kak
Dwitha, sama siapa?” sapa adik kelasku dari balik tenda yang digunakan untuk
menginap selama lomba.
“Eh
hai, sendiri aja kok.” Jawabku singkat.
Sudah hampir dua jam dan aku belum
juga melihat Danny, rasanya sia-sia saja datang ke sini, karena tujuan tidak
terlaksana, kalau bukan karena ingin mendukung mantan sekolahku dan adik kelas
ku, aku memilih untuk segera berlari dan meninggalkan tempat ini.
“Haaa,
harusnya aku tau dia tidak mungkin datang hari ini.” Gerutuku kesal.
“Jadi
ingin pulang sekarang?” Seseorang menepuk pundakku, aku membalikkan badan, ku
lihat cowok yang tidak asing, tingginya yang hanya lebih 2cm dariku, kulit sawo matang, alis yang
tidak begitu tebal, suara serak yang khas, badan mungilnya dibungkus kaos hitam
dan dibalut lagi dengan jaket berwarna merah redup, itu Danny. Ternyata dia
datang!
“Ka..
ka.. kamu, aku pikir kamu gak datang.” Ucapku terbata-bata.
“Tapi
sekarang aku ada kan?”
Kami lalu memutuskan duduk di depan
tenda, aroma bumbu yang dicampur tanpa memikirkan rasa apa yang ingin
diciptakan memenuhi rongga hidungku, Danny nampaknya tidak sama sepertiku, ia
sudah terbiasa dengan aroma itu, mungkin aroma ini adalah campuran dari bawang
merah, bawang putih, cabai, dengan sedikit merica dan ditambah dengan sebungkus
terasi saset dengan berat 4,5 gram.
“Nasi
goreng.” Ujar Danny memecah kesunyian diantara kami.
“Maksudnya
?”
“Meraka
sedang buat nasi goreng terasi.”
“Oh.”
Lalu kami kembali membisu, seakan
tenggelam dengan pikiran masing-masing. Aku masih belum punya keberanian
menanyakan tentang pesan singkat yang ia kirimkan tempo hari.
“Soal
yang kemarin aku cuma mau bilang kalau akuuu” Untuk kedua kalinya ia memecah
kesunyian, namun menggantung ucapannya.
“Kamu mau bilang apa?” Suaraku terdengar mulai
meninggi.
Dia tidak menjawab, kami terdiam
lagi untuk kesekian kalinya. Ku lihat jam tangan yang ia gunakan, kami sudah
duduk mematung lebih dari satu jam. Sepertinya dia tidak akan memecah kesunyian
lagi, dan aku, aku tidak mau melakukan itu.
“Kak,
kita makan siang dulu.” Seorang gadis yang usianya kira-kira masih 13 tahun
membuyarkan lamunanku dan Danny.
“Nasi
goreng kan? Ayo deh kebetulan perutku sudah minta diisi nih.”
Aneh! Bisa-bisanya ia mengubah
suasana yang tadinya kami seperti berada di pemakaman, dan sekarang, ia seperti
anak TK yang sangat girang melihat makanan, lebih tepatnya anak TK yang tidak
diberi makan 2 hari.
“Kamu
mau duduk terus kelaparan?” tanyanya saat mandapatiku tidak bangkit dari posisi
tadi.
Aku hanya menggeleng lalu
mengikutinya dari belakang. Selesai makan dia mengajakku untuk duduk ditempat
yang tadi.
“Aku
suka kamu.” Akunya yang sebelumnya diawali lagi oleh kebisuan kami berdua.
Aku kaget bercampur senang, inilah
hal yang paling aku tunggu. Aku sudah mulai membayangkan kami menghabiskan
waktu berdua, jalan-jalan ke taman kota, menikmati bubur ayam kesukaan kami,
atau menghabiskan malam untuk menonton tim kesayangan kami yaitu Liverpool dan
membahasnya esok hari.
“Aku
juga, aku menyukaimu sejak setahun lalu.” Ujarku terburu-buru, karena takut Danny
akan menarik atau meralat ucapannya.
“Tapi
kita gak bisa sama-sama.”
“Apa-apaan
ini, kamu duluan yang bilang suka ke
aku, tapi apa maksudnya kita gak bisa sama-sama?” Tuturku dalam hati. Mendapati
aku tak memberi respon ia melanjutkan kalimatnya yang tak kalah menyayat hati.
“You
better move on!”
Aku sudah tidak tahan dengan ini
semua, mataku sudah tidak kuat menampung bendungan air mata, tapi aku masih
mematung sembari mengumpulkan tenaga dan keberanian untuk lari dari hadapannya.
Satu, dua, tiga dan aku berlari secepat yang aku bisa meninggalkan kebingungan
yang mungkin sedang melanda Danny, peduli apa aku pada orang yang tega berkata
itu pada orang yang ia sukai dan menyukainya. Walau aku sebenarnya berharap ia
memanggilku dan mencegahku pergi.
Seminggu berlalu dan tidak ada kabar
dari Danny, Rahmi yang memang sudah tahu dengan semua ini, ia hanya menyuruhku
untuk bersabar dan selalu mendengarkanku.
“Air
mata kamu terlalu berharga untuk orang seperti dia.” Rahmi mencoba menghiburku,
padahal kedatangannya untuk bermalam ke rumahku saja sudah lebih dari cukup.
“Seharusnya
dia tidak seperti itu, dia tahu kalau aku menyukainya, seharusnya ia tidak
mengatakan itu dihadapanku.”
“Lalu
kamu mau dia ngapain, bilang suka ke kamu terus kalian jadian, nah dia nggak srek terus mutusin kamu. Pilih mana?
“Amiii”
Hanya itu yang ku katakan sebelum aku menumpahkan semua kesedihanku padanya.
“Dwitha ada yang cariin.” Teriak seseorang
dari luar rumah.
Aku
dan Rahmi kemudian bertatapan, kami sama-sama bingung, siapa yang tega bertamu
sepagi ini, aku dan Rahmi bergegas keluar melihat siapa yang datang.
“Hai!”
Sapa Danny tanpa rasa bersalah.
“Kamu,
ngapain ke….’
Belum sempat aku menyelesaikan
kata-kataku Danny sudah memotongnya.
“Selamat
ulang tahun Dwitha.”
kenapa harus namaku -____________-
BalasHapusKarena karena karena saya mau :p hahaha
Hapus