Minggu, 12 Mei 2013

Tugas ke-2


         Beberapa hari yang lalu, tepatnya dua minggu yang lalu, kelas saya dapat tugas lagi dari guru B. Indonesia, tugasnya ialah membuat cerpen berdasarkan pengalaman pribadi, waktunya cuma dua hari, bukannya membuat cerpen berdasarkan pengalaman pribadi saya malah mengarang bebas, tapi masih ada sedikit unsur pengalaman pribadi  di dalamnya. Nah ini dia cerpen saya.
           

            Aku berdiri memandang keluar jendela, titik air hujan masih saja membasahi jendela kamar, entah kapan hujannya akan reda. Genangan air di sana-sini menandakan banyak lubang yang menganga di jalan. Sedari tadi tugas sekolah sudah aku selesaikan, sehingga bisa memberiku banyak waktu mengamati tetesan hujan, mungkin berasal dari awan Nimbo Stratus pikirku. Kutilik jam di dinding kamar, ternyata sudah pukul 01.00 lewat, sudah sangat malam, tetapi tidak ada alasan yang mengharuskanku bergegas merebahkan tubuh, dan menyusupkannya ke dalam selimut.

            Pesan singkat tanggal 1 mei dari akun twitterku, membuatku gelisah seperti sekarang. Ini pertama kalinya dia memintaku menemuinya, ada apa gerangan pikirku dalam hati.

“Dua hari lagi, aku sudah menunggu ini dari setahun yang lalu.” Ucapku lalu segera tidur karena sudah hampir pukul 02.00 pagi.

            Esok paginya aku menceritakan hal ini pada Rahmi. Rahmi adalah sahabatku satu-satunya yang mengetahui semua hal dalam hidupku, dia juga mengetahui tentang perasaanku pada Danny, betul-betul tidak ada rahasia diantara kami. Aku mengenalnya sudah tiga tahun, persahabatan kami berawal saat kami kelas VII SMP.

“Berarti besok kamu bakalan ketemu sama dia dong?” Tanya Rahmi.
“Aku sudah lama menunggu ini, dan kau tahu itu.”
“Dimana?” Tanyanya yang belum sempat mengiyakan ucapkanku sebelumnya.
“Dimana apanya?”
“Kalian janjian ketemuan dimana?”
“Di Cokro, sekalian liatin anak-anak lomba.”

            Rahmi hanya menganggukan kepalanya diiringi bel yang berbunyi, menandakan jam istirahat telah berakhir dan digantikan derngan jam pelajaran berikutnya. Aku melewati hari ini dengan gelisah,  aku mulai merangkai kata-kata, jangan sampai besok aku bertemu dengan dia dan sama sekali tidak bisa mengatur caraku berbicara, aku tidak ingin kejadian memalukan dulu terulang lagi.

“Kak Dwitha, sama siapa?” sapa adik kelasku dari balik tenda yang digunakan untuk menginap selama lomba.
“Eh hai, sendiri aja kok.” Jawabku singkat.

            Sudah hampir dua jam dan aku belum juga melihat Danny, rasanya sia-sia saja datang ke sini, karena tujuan tidak terlaksana, kalau bukan karena ingin mendukung mantan sekolahku dan adik kelas ku, aku memilih untuk segera berlari dan meninggalkan tempat ini.

“Haaa, harusnya aku tau dia tidak mungkin datang hari ini.” Gerutuku kesal.

“Jadi ingin pulang sekarang?” Seseorang menepuk pundakku, aku membalikkan badan, ku lihat cowok yang tidak asing, tingginya yang hanya lebih  2cm dariku, kulit sawo matang, alis yang tidak begitu tebal, suara serak yang khas, badan mungilnya dibungkus kaos hitam dan dibalut lagi dengan jaket berwarna merah redup, itu Danny. Ternyata dia datang!

“Ka.. ka.. kamu, aku pikir kamu gak datang.” Ucapku terbata-bata.
“Tapi sekarang aku ada kan?”

            Kami lalu memutuskan duduk di depan tenda, aroma bumbu yang dicampur tanpa memikirkan rasa apa yang ingin diciptakan memenuhi rongga hidungku, Danny nampaknya tidak sama sepertiku, ia sudah terbiasa dengan aroma itu, mungkin aroma ini adalah campuran dari bawang merah, bawang putih, cabai, dengan sedikit merica dan ditambah dengan sebungkus terasi saset dengan berat 4,5 gram.

“Nasi goreng.” Ujar Danny memecah kesunyian diantara kami.
“Maksudnya ?”
“Meraka sedang buat nasi goreng terasi.”
“Oh.”

            Lalu kami kembali membisu, seakan tenggelam dengan pikiran masing-masing. Aku masih belum punya keberanian menanyakan tentang pesan singkat yang ia kirimkan tempo hari.

“Soal yang kemarin aku cuma mau bilang kalau akuuu” Untuk kedua kalinya ia memecah kesunyian, namun menggantung ucapannya.

 “Kamu mau bilang apa?” Suaraku terdengar mulai meninggi.

            Dia tidak menjawab, kami terdiam lagi untuk kesekian kalinya. Ku lihat jam tangan yang ia gunakan, kami sudah duduk mematung lebih dari satu jam. Sepertinya dia tidak akan memecah kesunyian lagi, dan aku, aku tidak mau melakukan itu.

“Kak, kita makan siang dulu.” Seorang gadis yang usianya kira-kira masih 13 tahun membuyarkan lamunanku dan Danny.

“Nasi goreng kan? Ayo deh kebetulan perutku sudah minta diisi nih.”

            Aneh! Bisa-bisanya ia mengubah suasana yang tadinya kami seperti berada di pemakaman, dan sekarang, ia seperti anak TK yang sangat girang melihat makanan, lebih tepatnya anak TK yang tidak diberi makan 2 hari.

“Kamu mau duduk terus kelaparan?” tanyanya saat mandapatiku tidak bangkit dari posisi tadi.

            Aku hanya menggeleng lalu mengikutinya dari belakang. Selesai makan dia mengajakku untuk duduk ditempat yang tadi.

“Aku suka kamu.” Akunya yang sebelumnya diawali lagi oleh kebisuan kami berdua.

            Aku kaget bercampur senang, inilah hal yang paling aku tunggu. Aku sudah mulai membayangkan kami menghabiskan waktu berdua, jalan-jalan ke taman kota, menikmati bubur ayam kesukaan kami, atau menghabiskan malam untuk menonton tim kesayangan kami yaitu Liverpool dan membahasnya esok hari.

“Aku juga, aku menyukaimu sejak setahun lalu.” Ujarku terburu-buru, karena takut Danny akan menarik atau meralat ucapannya.
“Tapi kita gak bisa sama-sama.”

“Apa-apaan ini, kamu  duluan yang bilang suka ke aku, tapi apa maksudnya kita gak bisa sama-sama?” Tuturku dalam hati. Mendapati aku tak memberi respon ia melanjutkan kalimatnya yang tak kalah menyayat hati.
“You better move on!”

            Aku sudah tidak tahan dengan ini semua, mataku sudah tidak kuat menampung bendungan air mata, tapi aku masih mematung sembari mengumpulkan tenaga dan keberanian untuk lari dari hadapannya. Satu, dua, tiga dan aku berlari secepat yang aku bisa meninggalkan kebingungan yang mungkin sedang melanda Danny, peduli apa aku pada orang yang tega berkata itu pada orang yang ia sukai dan menyukainya. Walau aku sebenarnya berharap ia memanggilku dan mencegahku pergi.

            Seminggu berlalu dan tidak ada kabar dari Danny, Rahmi yang memang sudah tahu dengan semua ini, ia hanya menyuruhku untuk bersabar dan selalu mendengarkanku.

“Air mata kamu terlalu berharga untuk orang seperti dia.” Rahmi mencoba menghiburku, padahal kedatangannya untuk bermalam ke rumahku saja sudah lebih dari cukup.
“Seharusnya dia tidak seperti itu, dia tahu kalau aku menyukainya, seharusnya ia tidak mengatakan itu dihadapanku.”
“Lalu kamu mau dia ngapain, bilang suka ke kamu terus kalian jadian, nah dia nggak srek terus mutusin kamu. Pilih mana?
“Amiii” Hanya itu yang ku katakan sebelum aku menumpahkan semua kesedihanku padanya.
“Dwitha ada yang cariin.” Teriak seseorang dari luar rumah.
Aku dan Rahmi kemudian bertatapan, kami sama-sama bingung, siapa yang tega bertamu sepagi ini, aku dan Rahmi bergegas keluar melihat siapa yang datang.
“Hai!” Sapa Danny tanpa rasa bersalah.
“Kamu, ngapain ke….’

            Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku Danny sudah memotongnya.
“Selamat ulang tahun Dwitha.”

2 komentar: